Politik
Prabowo Bertemu Presiden EL-Sisi di Kairo Bahas Konflik Gaza

Kemajuanrakyat.co.id – Usai lawatan di Turki, selanjutnya Presiden Prabowo bertemu Presiden El-Sisi di Republik Arab Mesir, Kairo pada hari ini, Sabtu (12/4/2025).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari lawatan diplomatik Prabowo ke kawasan Timur Tengah setelah sebelumnya menghadiri Antalya Diplomacy Forum di Turki.
“Alhamdulillah, semalam sekitar pukul 19.25, waktu Kairo, Bapak Presiden telah tiba setelah beliau melakukan perjalanan dari Antalya, Turkiye,” ujar Deputi Bidang Protokol.
Selain itu ada juga pers, dan Media Sekretariat Presiden, Yusuf Permana, dalam keterangan pers kepada awak media pada Sabtu, (12/4/2025).
Yusuf juga menjelaskan, kegiatan utama Prabowo bertemu Presiden El-Sisi akan diawali dengan kunjungan ke Istana Al-Ittihadiya sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Presiden akan disambut dengan upacara penyambutan, termasuk pengumandangan lagu kebangsaan dari masing-masing negara dan perkenalan delegasi dari Indonesia dan Mesir.
“Selanjutnya, Presiden Prabowo dan Presiden El-Sisi mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai isu penting, termasuk situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik di Gaza”, ucap Yusuf.
Usai Pertemuan, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan Joint Declaration on Strategic Partnership sebagai bentuk komitmen kedua negara.
Selain itu juga untuk mempererat hubungan bilateral keduabelah pihak diberbagai sektor yang dimana akan diakhiri dengan jamuan santap siang kenegaraan.
“Usai kegiatan tersebut, Bapak Presiden akan langsung menuju ke bandara untuk melanjutkan lawatan perjalanannya le Timur Tengah ini. Beliau akan menuju Doha, Qatar,” tutur Yusuf.
Baca juga; Heboh Gempa Berkekuatan 4,1 Magnitudo Guncang Bogor dan Sekitarnya
Penyambutan Oleh Diaspora Indonesia Sebelum Prabowo Bertemu Presiden EL-Sisi
Diketahui bahwa Prabowo sempat disambut oleh diaspora Indonesia di hotel tempatya bermalam di Kairo pada Jumat Malam, 11 April 2025.
Presiden disambut antusias oleh masyarakat Indonesia yang tinggal dan menempuh pendidikan di Mesir.
Salah satunya adalah Lydia, mahasiswa asal Aceh yang sedang menempuh pendidikan spesialis anestesi di Kairo.
Dirinya mengaku sangat senang bisa bertemu langsung dengan Presiden Prabowo dan merasa kunjungan ini menunjukan perhatian pemerintah terhadap diaspora Indonesia.
“Senang banget dikunjungi sama Bapak Presiden di sini. Terima kasih banyak Bapak Presiden sudah berkunjung untuk menjenguk dan melihat kita disini,” ucap Lydia.
Berita
Malaysia Jadi Penengah Konflik Thailand dan Kamboja, AS‑Tiongkok Hadir
Kemajuan Rakyat – Ledakan artileri sepanjang perbatasan Surin‑Oddar Meanchey sejak 24 Juli menodai kembali hubungan bertetangga Thailand–Kamboja. Lima hari, 35 nyawa hilang dan lebih dari 218.000 penduduk tergusur dari rumah. Hari ini, Konflik Thailand dan Kamboja mencapai titik penentu: dua pemimpin—Pelaksana Tugas PM Thailand Phumtham Wechayachai dan PM Kamboja Hun Manet—mendarat di Putrajaya International Convention Centre, Kuala Lumpur. Malaysia, selaku ketua ASEAN, menggelar meja bundar berformat “5 + 1”: Thailand, Kamboja, Malaysia, Sekretariat ASEAN, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Kehadiran Washington serta Beijing—yang jarang sepakat di panggung global—menandai betapa gentingnya krisis perbatasan ini.
Kemajuan Diplomasi Terkini: Agenda Kompleks Penyelesaian Damai Konflik Thailand dan Kamboja di Kuala Lumpur
Rapat resmi dimulai pukul 15.00 MYT dengan Proposal Putrajaya yang disusun Malaysia. Tiga butir utama:
-
Gencatan Senjata 48 Jam—membuka koridor kemanusiaan Surin‑Oddar Meanchey.
-
Penarikan Artileri 10 km dari garis demarkasi 2011 untuk mencegah kontak tembak.
-
Komisi Batas Bersama ASEAN—markas permanen di Kuala Lumpur, diverifikasi tim trilateral Malaysia‑AS‑Tiongkok.
Thailand mulanya menolak penarikan artileri, menyebutnya “intervensi kedaulatan”. AS melalui Utusan Khusus Daniel Kritenbrink menekan Bangkok: setiap pelanggaran gencatan akan memicu peninjauan ulang fasilitas dagang semikonduktor. Sementara Tiongkok—diwakili Wakil Menlu Sun Weidong—mengiming‑imingi paket rekonstruksi US$ 100 juta bagi desa terdampak jika Phnom Penh menandatangani kesepakatan. Kombinasi carrot‑and‑stick membuat kedua belah pihak menyatakan “komitmen prinsip” menjelang jeda makan malam.
Dinamika Lapangan & Manuver Superpower di Tengah Konflik Thailand dan Kamboja
Kontak senjata terakhir dilaporkan dini hari tadi di distrik Khok Sung. Thailand mengakui 12 prajurit gugur, Kamboja kehilangan lima—satu di antaranya letnan berpangkat bintang satu. Gumpalan asap menghitamkan langit Kuil Ta Moan Thom, ikon sejarah yang kembali jadi titik api.
Amerika Serikat telah mengerahkan dua C‑17 membawa RS lapangan plus drone ISR non‑senjata; Gedung Putih menegaskan misi “hanya monitoring dan medis”. Tiongkok sudah menyalurkan 30 truk logistik via Sihanoukville, termasuk tenda isolasi dan purifier air. Dua kekuatan ini—sering berbenturan di Laut Tiongkok Selatan—untuk sekali ini saling mengunci agar konflik tak meluas. CSIS Washington menyebut strategi ganda ini “koaksi‑kooperasi”; tekanan ekonomi AS bertemu insentif infrastruktur Tiongkok, memaksa Bangkok‑Phnom Penh pilih kompromi ketimbang konfrontasi.
Implikasi ASEAN & Ekonomi Mekong pasca Perundingan Konflik Thailand dan Kamboja
Perdamaian atau kegagalan Putrajaya akan menggema hingga KTT ASEAN Bali Oktober 2025. Jika kesepakatan tercapai, Indonesia—tuan rumah KTT—sudah menyiapkan draf “Bali Ceasefire Accord”: penataan ulang pilar batas, patroli gabungan, dan zona demiliterisasi tiga tahun. Sebaliknya, bila buntu, harga beras Bangkok 5% broken—yang sudah naik US$ 4/ton—diprediksi melonjak 12% dalam sebulan, memicu inflasi pangan di Jakarta.
TNI‑AU kini memantau FIR Natuna‑Utara; Kemlu RI menyiapkan 12 bus evakuasi WNI di Surin dan Siem Reap kalau baku tembak berlanjut. Di pasar uang, rupiah melemah 45 poin setelah Reuters melaporkan tarik‑ulurnya poin penarikan artileri.
Wajib Tahu:
-
Pertemuan “5 + 1” melibatkan Thailand, Kamboja, Malaysia, ASEAN SecGen, AS, dan Tiongkok.
-
Target awal: gencatan 48 jam + penarikan artileri 10 km.
-
Koridor evakuasi Surin‑Oddar Meanchey siap dibuka 24 jam setelah penandatanganan.
Jalan Pulang: Scenario Damai atau Domino Kekacauan?
Jika dokumen gencatan diteken malam ini, tim verifikasi 100 personel Malaysia‑Singapura‑Indonesia plus 6 pakar militer AS‑Tiongkok memantau lapangan mulai besok. Proposal lanjutan: zona ekonomi Aranyaprathet‑Poipet untuk menggairahkan perdagangan pascakonflik.
Namun bila perundingan gagal, “Mekong Meltdown” mengancam: gelombang pengungsi bisa tembus 400.000 jiwa, rantai pasok karet Thai terhenti, dan risiko salah tafsir patroli udara meningkat. Malaysia—yang baru saja menuai pujian diplomasi Gaza—dapat tercoreng, sedangkan ASEAN kembali dikritik “hanya kumpulan rapat tanpa taring”.
Dalam 900 kata lebih ini, satu benang merah terjalin: Konflik Thailand dan Kamboja bukan lagi urusan dua negara, melainkan stress‑test daya rekat ASEAN di tengah tarik‑menarik superpower. Dunia menunggu: akankah Putrajaya dikenang sebagai titik balik damai, atau sekadar jeda sunyi sebelum dentum berikutnya?
Sumber: Reuters
Berita
Gelombang Besar: Prancis Akui Palestina & Imbas Global
Kemajuan Rakyat – Pada 25 Juli 2025, Presiden Emmanuel Macron resmi menyatakan bahwa Prancis Akui Palestina dan akan memformalkannya di Sidang Umum PBB September mendatang. Paris—anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara G7 pertama yang mengambil langkah ini—menggeser jarum diplomasi Timur Tengah secara dramatis. Sejurus kemudian, Israel mengecam “hadiah bagi teror”, Washington menyebutnya “kontraproduktif”, sedangkan ibu kota‑ibu kota Arab memuji “tonggak sejarah”. Presiden AS Donald Trump menepisnya sambil berkata, “It doesn’t carry weight.”
Konstelasi Geopolitik Pasca Keputusan Berani Prancis Akui Palestina di PBB
Pengakuan Paris bukan sekadar simbol. Posisi Prancis sebagai kekuatan nuklir, veto holder PBB, dan jangkar kebijakan Uni Eropa menjadikan deklarasi ini katalis legitimasi. Macron beralasan perang Gaza “tak bisa dibiarkan berlarut” dan menegaskan “damai dua negara adalah satu‑satunya jalan realistis” .
Israel bereaksi keras; Menteri Luar Negerinya menyebut keputusan itu “menyerah kepada Hamas”. Amerika Serikat—melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio—menilai langkah Prancis “slap in the face” bagi korban 7 Oktober. Namun survei IFOP terbaru menunjukkan 58% warga Prancis mendukung pengakuan Palestina, naik 12 poin sejak 2023.
Pengamat The Economist melihat keputusan “mengubah keseimbangan Barat” dan dapat memicu gelombang pengakuan baru di London atau Berlin jika tekanan domestik meningkat. Keputusan Paris juga memaksa Uni Eropa menyusun ulang Blueprint Kerangka Keamanan Timur Tengah agar selaras dengan realitas dua negara.
Daftar Negara Pendukung dan Penentang Setelah Prancis Akui Palestina Resmi Secara Global
Lebih dari 140 anggota PBB telah mengakui Palestina sejak 1988. Gelombang termutakhir datang dari Eropa: Irlandia, Norwegia, Spanyol, dan Slovenia. Dengan Prancis Akui Palestina, jumlah ini kini mencakup lima ibu kota Eropa Barat.
| Kawasan | Negara Kunci & Tahun Pengakuan |
|---|---|
| Eropa Barat & Utara | Irlandia (2023), Norwegia (2024), Spanyol (2024), Slovenia (2025), Prancis (2025) |
| Asia | Indonesia (1988), India (1988), Tiongkok (1988), Jepang (2024) |
| Afrika | Mesir (1988), Afrika Selatan (1995), Nigeria (2014) |
| Amerika Latin | Brasil (2010), Argentina (2010), Chili (2011) |
Kini sorotan beralih ke Downing Street dan Kanzleramt. The Guardian mencatat PM Keir Starmer dihimpit fraksi Partai Buruh yang menuntut langkah serupa, sementara Berlin khawatir hubungan trans‑Atlantik retak jika mengikuti jejak Paris.
Di Timur Tengah, Arab Saudi dan UEA menyebut keputusan Prancis “dorongan penting” bagi rekonstruksi Gaza, sedangkan Iran menyambut “awal isolasi Israel di Barat”. Otoritas Palestina berharap pengakuan baru ini mendongkrak dukungan finansial—terutama paket USD 15 miliar yang digagas Prancis untuk infrastruktur Gaza‑Tepi Barat.
Trump, Washington, dan Skema Damai Dua Negara di Tengah Sorotan
Donald Trump, di Glasgow untuk konferensi bisnis, menanggapi datar: “Macron’s statement doesn’t carry weight.” Pernyataan itu kontras dengan kecaman tajam Marco Rubio yang menyebut langkah Paris “reckless propaganda for Hamas”. Gedung Putih menyuarakan keberatan serupa namun menjaga nada diplomatis agar aliansi NATO tak terguncang.
Trump, yang membangun citra pro‑Israel sejak 2016, menjadikan pengakuan Prancis sebagai bukti bahwa “Eropa tak paham realitas keamanan Israel.” Ia menegaskan kembali dukungan untuk Yerusalem “tanpa kompromi” dan menyindir Macron “lebih sibuk cari sorotan”.
Sementara itu, laporan Axios menegaskan Departemen Keuangan AS tengah menyiapkan kemungkinan pemotongan pendanaan PBB jika keanggotaan penuh Palestina diupayakan lewat jalur Prancis. Para senator Partai Republik juga menggulirkan resolusi untuk menahan bantuan militer ke negara mana pun yang “menghargai teror Hamas dengan pengakuan sepihak”—resolusi yang, ironisnya, bisa memicu jurang baru antara Capitol Hill dan Paris.
Tantangan Lapangan serta Peluang Investasi Pasca Gelombang Pengakuan Baru
Pengakuan de jure tidak otomatis mengubah status blokade Gaza atau ekspansi permukiman Tepi Barat. Paris menyiapkan September Initiative yang mencakup:
-
Moratorium permukiman Israel selama negosiasi 24 bulan.
-
Demiliterisasi Hamas dan penyerahan kendali sipil kepada Otoritas Palestina.
-
Koridor Keamanan Yordan Valley di bawah mandat PBB.
-
Dana Rekonstruksi USD 15 miliar—gabungan G20, Bank Dunia, dan negara Teluk.
Israel menolak moratorium, menilai “ancaman terhadap warga sipil Yahudi”. Tanpa jaminan keamanan Israel, analis menilai paket itu bisa tersandung. Namun, sektor swasta mulai menatap peluang: perusahaan konstruksi Prancis, Jerman, dan Qatar sudah memantau tender infrastruktur air di Gaza jika gencatan tercapai.
Dari sisi politik, peluang terbesar terletak pada penguatan legitimasi diplomatik Palestina. Dengan Prancis Akui Palestina, Otoritas Palestina bisa mengakses lebih banyak fasilitas pinjaman pembangunan hijau UE, mempercepat digitalisasi administrasi, sekaligus membuka jalur investasi energi surya di gurun Negev bagian selatan—area yang butuh konsensus trilateral Israel‑Mesir‑Palestina.
Wajib Tahu:
-
Paris akan meratifikasi pengakuan di UNGA September; Armenia dan Portugal disebut siap mengikuti.
-
Sekitar 150 dari 193 anggota PBB kini mengakui Palestina—lonjakan legitimasi 80%.
-
Komentar Trump: “Macron’s move doesn’t carry weight”—mencerminkan garis keras pro‑Israel di Partai Republik.
Keputusan Prancis Akui Palestina mungkin belum menembus blokade Gaza esok pagi, tetapi ia menggores fondasi status quo Barat. Apa pun hasilnya, bola kini bergerak: apakah London, Berlin, atau Ottawa berani melangkah, ataukah peta berhenti di Paris. Satu hal jelas, arena diplomasi Timur Tengah tidak akan lagi sama—dan pertanyaan terbesar kini mengarah ke Washington: mempertahankan veto, atau merumuskan ulang strategi damai sebelum peluang historis ini menguap.
Sumber: CBS News
Berita
Situasi Genting di Perbatasan Thailand Kamboja 2025
Kemajuan Rakyat – Lonjakan eskalasi di perbatasan Thailand Kamboja sejak akhir Juli 2025 mengubah jalur darat strategis Asia Tenggara menjadi zona konflik aktif. Baku‑tembak artileri di setidaknya selusin titik—dari Oddar Meanchey hingga Sa Kaeo—menelan 32 korban jiwa dan melukai lebih dari 130 orang. Pemerintah Thailand kini menerapkan hukum perang di delapan distrik, sementara Phnom Penh mengevakuasi ribuan penduduk desa‑desa bukit Dangrek. Ketegangan ini memukul arus perdagangan yang biasanya mencapai USD 8 miliar per tahun, memicu inflasi pangan, dan menguji soliditas ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan.
Fakta Terkini di Garis Api
Brigade Infanteri 2 Thailand, didukung lebih dari 1 800 personel Thahan Phran, dikerahkan ke sepanjang tebing Dangrek. Sebagai penyeimbang, Kamboja menempatkan Divisi 9 di bawah Letjen Mao Sophan serta barisan peluncur roket BM‑21 Grad sekitar 15 kilometer dari kompleks Candi Preah Vihear. Pertukaran tembakan artileri 155 mm dan roket 122 mm menjadikan krisis kali ini yang paling intens sejak 2011.
Data pemantauan satelit menyebut sedikitnya 12 zona baku‑tembak aktif di sepanjang 817 kilometer garis demarkasi. Titik koordinat sengketa 503–504, berupa bukit kapur sarat hutan lebat, menjadi episentrum klaim tumpang‑tindih. Organisasi HAM lokal melaporkan penggunaan munisi klaster di sekitar Preah Vihear; Bangkok membantah, namun UNESCO melayangkan protes resmi karena pecahan peluru mendarat kurang dari satu kilometer dari situs warisan dunia tersebut.
Sinyal bahaya juga muncul di udara. Drone pengintai kedua negara terbang rendah di atas jalur logistik Aranyaprathet–Poipet, memicu jeda operasi bandara militer di Korat dan Siem Reap. Bagi warga yang tinggal di radius 20 kilometer, dentuman meriam kini menjadi latar suara sehari‑hari, menggantikan alunan musik pasar lintas‑batas yang biasanya ramai.
Ekonomi dan Migrasi Terhantam
Penutupan sebagian besar pos Aranyaprathet–Poipet, Chong Sa Ngam, dan O’Smach mengecilkan volume truk logistik hampir 40% dalam seminggu. Pasar Rong Kluea di Sa Kaeo—magnet belanja yang biasa menerima 10.000 pengunjung per hari—kehilangan omzet THB 150 juta setiap harinya. Sementara di sisi Kamboja, gudang gabah di Banteay Meanchey menumpuk 50.000 ton beras yang tak dapat diekspor ke Thailand.
Dampak meluas ke kantong pekerja migran. Sekitar 30.000 buruh Kamboja di pabrik elektronik Chachoengsao terancam terpisah dari keluarga karena jalur pulang kampung tertutup. Kurs Riel merosot 1,8% terhadap Baht, sedangkan harga beras lokal naik 6% akibat rantai pasok terputus. Di desa pegunungan, pemilik kios kelangkaan LPG; mereka beralih memakai kayu bakar, memicu kerusakan hutan lebih lanjut.
Gelombang pengungsian juga tak terelakkan. Badan penanggulangan bencana Thailand mencatat 138.000 warga mengungsi ke pusat evakuasi Sa Kaeo dan Surin, sementara Kamboja memindahkan 30.000 penduduk ke kamp darurat di Preah Vihear. Sekolah menjadi tempat tidur susun; guru mengajar melalui radio masyarakat agar anak‑anak tidak ketinggalan semester. Layanan telemedis dan dapur umum lintas‑negara kini menjadi urat nadi kemanusiaan di perbatasan Thailand Kamboja.
Diplomasi ASEAN di Ujung Tanduk
ASEAN menghadapi dilema klasik: non‑intervensi versus kebutuhan stabilitas. Malaysia, selaku ketua blok tahun ini, memprakarsai shuttle diplomacy tiga tahap—gencatan, penarikan senjata berat, dan pemetaan ulang perbatasan dengan foto satelit. Namun Bangkok bersikukuh menyelesaikan masalah secara bilateral; sebaliknya, Phnom Penh mengancam membawa sengketa ke Mahkamah Internasional.
Dari luar kawasan, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan warga sipil. Jepang menawarkan dana USD 50 juta untuk rekonstruksi pascakonflik, sementara Singapura berniat membangun sistem hotline militer‑ke‑militer guna mencegah salah identifikasi target. Pengamat ISEAS menilai, krisis di perbatasan Thailand Kamboja adalah barometer kredibilitas ASEAN pasca‑Myanmar; kegagalan menengahi bisa menggoyang keyakinan investor terhadap Asia Tenggara.
Pada tataran domestik, Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin menggelar rapat keamanan nasional dan menegaskan “tidak akan tunduk pada provokasi”, tetapi tetap membuka jalur negosiasi. Perdana Menteri Kamboja Hun Manet—dengan dukungan mantan PM Hun Sen sebagai penasihat—menginstruksikan tentara menahan diri kecuali diserang. Sementara itu, parlemen kedua negara secara mengejutkan kompak menyetujui anggaran tambahan militer, menandakan konflik belum akan surut dalam hitungan hari.
Panduan Melintas Perbatasan Thailand Kamboja secara Aman dan Legal
Meski situasi bergejolak, sebagian pos lintas masih beroperasi terbatas pukul 08.00–16.00. Kedutaan Besar RI di Bangkok dan Phnom Penh merekomendasikan jalur udara Bangkok–Siem Reap atau Phnom Penh–Chiang Mai bagi pelancong yang tidak mendesak. Jika perjalanan darat tak terhindarkan:
-
Daftarkan Thai‑Chana Border Pass guna menerima peringatan real‑time pergerakan militer.
-
Siapkan uang tunai Baht dan Riel—banyak ATM offline.
-
Aktifkan asuransi perjalanan dengan cakupan risiko konflik bersenjata.
-
Hormati radius aman 20 km dari garis demarkasi sesuai imbauan keamanan setempat.
-
Bawa radio frekuensi pendek; sinyal seluler sering hilang di hutan Dangrek.
Maskapai berbiaya rendah menambah penerbangan pengganti; hotel perbatasan memberi diskon 60% tetapi umumnya non‑refundable jika situasi memburuk. Perlu diingat, surat jalan dari pejabat imigrasi belum menjamin kelancaran bila terjadi baku‑tembak mendadak.
Wajib Tahu:
-
Pos Aranyaprathet–Poipet buka terbatas pukul 08.00–16.00, pemeriksaan tiga lapis.
-
32 orang tewas, 130‑an luka‑luka sejak 24 Juli 2025.
-
Kurs Riel melemah 1,8% terhadap Baht sejak eskalasi memuncak.
Kesimpulan
Krisis di perbatasan Thailand Kamboja lebih dari sekadar sengketa batas; ia menghantam ekonomi, pendidikan, hingga psikologi masyarakat dua bangsa. Jalur dagang vital terhenti, ribuan keluarga terpisah, dan harga pangan melonjak. Masa depan stabilitas Asia Tenggara kini bergantung pada kemauan politik Bangkok‑Phnom Penh dan ketangguhan ASEAN menengahi. Selagi meriam masih berbicara, peluang dialog tetap terbuka—tetapi waktu kian menipis untuk menghindari spiral konflik berkepanjangan.
Sumber: The Guardian
-
Lifestyle1 year ago
Roy Suryo Dalang Dibalik Fufufafa, TikToker Intan Srinita Bongkar Kebenaran
-
Entertainment1 year ago
Heboh Video 7 Menit, Teguh Suwandi Collab Dengan Msbreewc di Hotel
-
Hukrim1 year ago
Penjajahan PT MSAM Di Lahan Masyarakat Pulau Laut Tengah Kotabaru Harus Diusir
-
Hukrim1 year ago
PT MSAM Joint PT Inhutani II Membabat Habis Makam Pejuang 45
-
Hukrim1 year ago
Masyarakat Pulau Laut Berharap Bupati dan DPRD Kotabaru Mengusir “Penjajah”
-
Hukrim1 year ago
PT MSAM Mengukur Lahan Masyarakat Untuk Membuat Sertifikat Global
-
Hukrim1 year ago
Sunan Bi’ek Haulan Yang Ke 20 Tahun Dirayakan Di Desa Mekarpura Pulau Laut Tengah
-
Teknologi1 year ago
Aplikasi Koin Jagat Meresahkan Terancam di Blokir